Sang Pecinta

Wahai Sang Pengasih,

Ketika ilalang menjelma menjadi pohon kelapa

Dia tidak lagi kerdil dan tak terlihat adanya

Dia hidup lebih tinggi dan makin lengkap dahannya

Makin dasyat angin, dan dia makin tak berdaya

Hingga hanya Engkau, yang mampu topang kekurangannya

Wahai Sang Penyayang,

Ketika hidup tak lagi sederhana

Dia menjadi seperti sulit untuk dilewati

Masalah tak urungnya singgah dan enggan pergi

Makin kujauhkan dia, makin dekat dia berlari

Hingga hanya Engkau, yang mampu mempermudahnya

Wahai Sang Pecinta,

Ketika kami tak lagi remaja

Saat itu bukan lagi seraut wajah yang kami cari

Sekedar rayuan tak lagi mampu luluhkan hati

Makin bertambah waktu, makin besar ketakutan kami

Hingga hanya Engkau, yang mampu tenangkan kami

SISTA

Jakarta, 10 Juli 2006

One Response to “Sang Pecinta”

  1. Dino Says:

    Sis kamu pecinta sejati, blognya penuh cinta.

Leave a Reply